Eks Bendahara SMKN 1 Pancur Batu Divonis 2 Tahun Penjara Kasus Korupsi Dana BOS
Eks bendahara SMKN 1 Pancur Batu divonis 2 tahun penjara atas kasus korupsi dana BOS, jadi pengingat pentingnya pengawasan sekolah.
Dalam persidangan, terungkap bahwa dana BOS yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan pendidikan justru disalahgunakan. Kejadian ini menjadi peringatan bagi seluruh lembaga pendidikan untuk memastikan transparansi penggunaan dana.
Vonis ini diharapkan memberikan efek jera dan mendorong praktik pengelolaan Uang Rakyat yang lebih akuntabel di sekolah-sekolah lain, sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan publik.
Mantan Bendahara SMKN 1 Pancur Batu Divonis 2 Tahun Penjara
Mantan bendahara SMKN 1 Pancur Batu, Andrison F. Nainggolan, dijatuhi vonis dua tahun penjara atas kasus korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) tahun 2018–2022.
Putusan ini dibacakan Ketua Majelis Hakim Mohammad Yusafrihardi Girsang di ruang Cakra 7 Pengadilan Negeri Medan, Jumat (13/2/2026). Andrison dinilai terbukti bersalah menyalahgunakan dana pendidikan yang seharusnya mendukung proses belajar-mengajar.
Selain hukuman penjara, terdakwa juga diwajibkan membayar denda Rp 50 juta, subsider 50 hari jika tidak sanggup membayar, serta uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 71 juta yang telah dikembalikan.
Perbuatan Korupsi Dan Dasar Hukum Putusan
Hakim menilai perbuatan Andrison melanggar Pasal 603 KUHP Jo. Pasal 20 huruf c dan d, Pasal 126 ayat (1) UU No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP, serta Pasal 18 UU No. 31 Tahun 1999 yang telah diubah menjadi UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Tindakan terdakwa dianggap bertentangan dengan program pemerintah dalam memberantas korupsi. Selain merugikan keuangan negara, perbuatan tersebut juga menghambat proses belajar-mengajar di SMKN 1 Pancur Batu.
Hakim menyebut korupsi dana BOS dan SPP oleh terdakwa telah mencederai dunia pendidikan di Kota Medan, menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kualitas pembelajaran dan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.
Baca Juga: Jaksa Geledah Kantor DPRD Merangin, Selidiki Dugaan Korupsi dan Penyalahgunaan Anggaran
Pertimbangan Pemberatan Dan Peringanan
Dalam putusannya, hakim mempertimbangkan sejumlah hal yang memberatkan. Perbuatan terdakwa tidak mendukung pemberantasan korupsi, merugikan murid dan guru, serta berdampak negatif pada reputasi sekolah.
Di sisi lain, terdakwa mendapat hal meringankan karena bersikap sopan selama persidangan, belum pernah dihukum sebelumnya, dan telah mengembalikan kerugian negara melalui uang pengganti sebesar Rp 71 juta.
Pertimbangan ini menjadi dasar penentuan hukuman lebih rendah dari pidana maksimal, namun tetap lebih berat dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).
Tuntutan Jaksa Dan Perbedaan Putusan
Sebelumnya, JPU menuntut Andrison dengan hukuman satu tahun enam bulan penjara, denda Rp 100 juta subsider enam bulan kurungan, serta pengembalian uang kerugian negara Rp 71 juta yang telah dibayar.
Putusan hakim akhirnya lebih berat dibanding tuntutan JPU, dengan hukuman penjara dua tahun dan denda Rp 50 juta. Perbedaan ini menunjukkan penegakan hukum yang tegas terhadap praktik korupsi di sektor pendidikan.
Hakim memberikan waktu tujuh hari bagi terdakwa dan jaksa untuk berpikir menerima putusan atau mengajukan banding, memberi ruang hukum untuk menilai kesesuaian vonis dengan tuntutan.
Dampak Korupsi Dana BOS bagi Pendidikan
Kasus ini menyoroti dampak serius korupsi dana BOS dan SPP terhadap dunia pendidikan. Dana yang seharusnya digunakan untuk fasilitas belajar, gaji guru tambahan, dan kebutuhan siswa justru disalahgunakan, mengurangi kualitas pendidikan.
Masyarakat diingatkan pentingnya transparansi penggunaan dana publik, terutama di sekolah-sekolah negeri. Efek jera dari vonis ini diharapkan mendorong kepatuhan bendahara sekolah dan meningkatkan pengawasan internal.
Pendidikan yang sehat dan transparan merupakan kunci peningkatan mutu siswa. Kasus Andrison menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa penyalahgunaan dana publik tidak akan ditoleransi dan akan mendapat sanksi tegas.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari sumut.antaranews.com