29 Juta Warga Tanpa Hunian Layak, Ini Usulan DPR

Bagikan

Sebanyak 29 juta warga Indonesia belum memiliki rumah sehingga Waka Komisi V DPR menyampaikan sejumlah saran strategis untuk pemerintah.

29 Juta Warga Tanpa Hunian Layak, Ini Usulan DPR

Angka tersebut mencerminkan persoalan serius di sektor perumahan nasional yang belum sepenuhnya teratasi. Wakil Ketua Komisi V DPR RI pun angkat bicara dengan memberikan sejumlah saran strategis agar pemerintah dapat mempercepat pemenuhan kebutuhan hunian layak bagi masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah.

Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Uang Rakyat.

Krisis Hunian Masih Jadi Pekerjaan Rumah Besar

Kekurangan rumah atau backlog perumahan masih menjadi tantangan utama pembangunan nasional. Jumlah warga yang belum memiliki rumah dinilai terlalu besar dan berpotensi menimbulkan persoalan sosial baru jika tidak segera ditangani secara sistematis.

Menurut Waka Komisi V, masalah hunian tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bangunan, tetapi juga menyangkut daya beli masyarakat. Harga rumah yang terus meningkat tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan, sehingga kepemilikan rumah kian sulit dijangkau.

Ia menekankan bahwa negara harus hadir secara lebih aktif dalam menjamin akses masyarakat terhadap hunian layak. Perumahan, kata dia, bukan sekadar kebutuhan fisik, melainkan fondasi kesejahteraan dan stabilitas keluarga.

Perlu Peran Kuat Pemerintah Pusat Dan Daerah

Pemerintah pusat dinilai perlu memperkuat kebijakan lintas sektor untuk mempercepat pembangunan rumah rakyat. Koordinasi antara kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar program perumahan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Pemerintah daerah juga didorong lebih proaktif menyediakan lahan dan menyederhanakan perizinan. Hambatan birokrasi yang panjang sering kali membuat pembangunan rumah bersubsidi terhambat dan tidak tepat sasaran.

Waka Komisi V menilai, tanpa dukungan serius dari daerah, target penyediaan rumah akan sulit tercapai. Oleh karena itu, sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah harus menjadi prioritas bersama.

Baca Juga: LAPSI Laporkan Dugaan Ketidakjelasan Aset Kendaraan Dinas

Skema Pembiayaan Harus Lebih Inklusif

Skema Pembiayaan Harus Lebih Inklusif

Selain kebijakan dan pembiayaan, Waka Komisi V juga menyoroti pentingnya akurasi data dalam program perumahan nasional. Data penerima manfaat yang belum terintegrasi dinilai kerap menimbulkan persoalan di lapangan, mulai dari ketidaktepatan sasaran hingga potensi tumpang tindih bantuan. Pemerintah diminta memastikan basis data terpadu agar bantuan perumahan benar-benar diterima masyarakat yang membutuhkan.

DPR mendorong agar pemerintah memperluas skema pembiayaan yang lebih inklusif dan fleksibel. Subsidi bunga, bantuan uang muka, hingga skema sewa beli dinilai bisa menjadi alternatif solusi. Lebih jauh, DPR mengingatkan agar pembangunan perumahan tidak hanya berfokus pada jumlah, tetapi juga kualitas lingkungan. Ketersediaan akses air bersih, sanitasi, transportasi, serta fasilitas pendidikan dan kesehatan harus menjadi bagian dari perencanaan hunian, agar rumah yang dibangun benar-benar layak dan berkelanjutan.

Perumahan Sebagai Investasi Sosial Jangka Panjang

Waka Komisi V menegaskan bahwa pembangunan perumahan harus dipandang sebagai investasi sosial jangka panjang. Rumah yang layak akan meningkatkan kualitas hidup, kesehatan, dan produktivitas masyarakat.

Ia juga menekankan perlunya keterlibatan sektor swasta dalam pembangunan hunian rakyat. Melalui skema kerja sama pemerintah dan badan usaha, pembangunan rumah dinilai dapat dipercepat tanpa membebani anggaran negara secara berlebihan. Namun, kerja sama tersebut harus tetap mengedepankan prinsip keterjangkauan harga dan kualitas bangunan.

Dengan kebijakan yang tepat, persoalan 29 juta warga tanpa rumah bukan hanya bisa dikurangi, tetapi juga menjadi momentum memperkuat fondasi pembangunan nasional yang berkeadilan.

Jangan lewatkan update berita seputaran Modus Kejahatan serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Utama dari news.detik.com
  • Gambar Kedua dari nasional.sindonews.com

Similar Posts

  • Purbaya, Pemerintah Tarik Dana Rp75 Triliun dari Perbankan Stabilitas

    Bagikan

    Anggota Dewan Komisioner LPS, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkap pemerintah telah menarik dana sekitar Rp75 triliun dari perbankan.

    Purbaya, Pemerintah Tarik Dana Rp75 Triliun dari Perbankan Stabilitas

    Meski jumlahnya besar, langkah ini dinilai bagian dari pengelolaan kas negara yang rutin dan strategis. Purbaya menegaskan stabilitas perbankan tetap terjaga dengan likuiditas dan permodalan bank yang kuat.

    Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Uang Rakyat.

    Purbaya Ungkap Penarikan Dana Pemerintah

    Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut pemerintah telah menarik dana sekitar Rp75 triliun dari sistem perbankan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah forum diskusi ekonomi yang membahas dinamika likuiditas dan stabilitas sektor keuangan nasional.

    Menurut Purbaya, penarikan dana ini merupakan bagian dari pengelolaan kas pemerintah yang bersifat rutin dan strategis. Langkah tersebut dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan pembiayaan negara, termasuk belanja pemerintah dan pengelolaan utang.

    Ia menegaskan bahwa kebijakan ini tidak serta-merta menimbulkan gangguan pada perbankan nasional. Sistem keuangan dinilai masih berada dalam kondisi yang relatif stabil, dengan permodalan bank yang kuat dan likuiditas yang terjaga.

    Dampak terhadap Likuiditas Perbankan

    Penarikan dana pemerintah dalam jumlah besar berpotensi memengaruhi likuiditas perbankan, terutama bank-bank yang selama ini menjadi tempat penyimpanan dana pemerintah. Namun, Purbaya menilai dampak tersebut masih dapat dikelola oleh industri perbankan.

    Perbankan nasional saat ini dinilai memiliki cadangan likuiditas yang cukup untuk menyerap perubahan arus dana. Selain itu, bank juga memiliki berbagai instrumen pendanaan lain, termasuk dana pihak ketiga dan pasar uang, untuk menjaga keseimbangan likuiditas.

    Purbaya menjelaskan bahwa koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas keuangan lainnya menjadi kunci dalam menjaga stabilitas. Dengan komunikasi yang baik, potensi tekanan likuiditas dapat diantisipasi sejak dini.

    Baca Juga: Terungkap! Dugaan Korupsi Bantuan Bencana Oleh Kepala Dinas Samosir

    Penjelasan Pemerintah Soal Penarikan Dana

    Penjelasan Pemerintah Soal Penarikan Dana

    Penarikan dana tersebut bukan merupakan sinyal negatif terhadap sektor perbankan. Langkah ini lebih berkaitan dengan manajemen kas negara yang menyesuaikan jadwal pengeluaran dan kebutuhan fiskal.

    Dalam praktiknya, dana pemerintah kerap berpindah dari perbankan ke instrumen lain, seperti pembiayaan belanja negara atau pembayaran kewajiban jatuh tempo. Pergerakan ini dianggap wajar dalam siklus keuangan negara.

    Purbaya juga menekankan bahwa pemerintah tetap memperhatikan dampak kebijakan fiskal terhadap sektor keuangan. Setiap keputusan diambil dengan mempertimbangkan stabilitas sistem perbankan dan kepercayaan masyarakat.

    Stabilitas Keuangan Tetap Terjaga

    Meski terjadi penarikan dana Rp75 triliun, Purbaya memastikan kondisi stabilitas keuangan nasional masih solid. Rasio kecukupan modal perbankan dinilai berada di atas ketentuan minimum, sementara tingkat likuiditas masih dalam batas aman.

    Ia mengimbau masyarakat agar tidak bereaksi berlebihan terhadap informasi tersebut. Menurutnya, yang terpenting adalah melihat kondisi fundamental perbankan yang hingga kini tetap kuat dan resilien menghadapi berbagai tekanan global maupun domestik.

    Ke depan, Purbaya berharap sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter terus diperkuat. Dengan langkah yang terkoordinasi, pemerintah dan otoritas keuangan optimistis mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

    Jangan lewatkan update berita seputaran Uang Rakyat serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


    Sumber Informasi Gambar:

    1. Gambar Utama dari antaranews.com
    2. Gambar Kedua dari antaranews.com
  • PDIP Jateng Didorong Perkuat Sentuhan Langsung Ke Rakyat

    Bagikan

    PDI-P Jawa Tengah diminta segera terjun langsung ke rakyat agar mampu mempertahankan kandang banteng di tengah dinamika politik nasional ini.

    PDIP Jateng Didorong Perkuat Sentuhan Langsung Ke Rakyat

    Langkah strategis ini diharapkan membawa energi baru, namun bersamaan dengan itu muncul tuntutan kuat: para kader muda harus segera bergerak dan melakukan konsolidasi intensif hingga ke akar rumput.

    Dibawah Ini, Uang Rakyat akan menjelaskan bukan sekadar pergantian personel, melainkan sebuah pertaruhan besar untuk mempertahankan predikat Jawa Tengah sebagai “Kandang Banteng” PDI-P di Pemilu mendatang, sebuah wilayah yang secara historis menjadi basis dukungan solid partai.

    Regenerasi Kepengurusan Dan Tantangan Di Depan

    Kepengurusan PDI-P Jawa Tengah telah mengalami perombakan signifikan, dengan masuknya banyak kader muda yang diharapkan membawa semangat dan ide-ide segar. Langkah regenerasi ini dipandang sebagai keniscayaan untuk menghadapi dinamika politik modern dan tantangan Pemilu yang akan datang. Fokusnya adalah menjangkau pemilih milenial dan Gen Z yang kini menjadi mayoritas.

    Peneliti senior Bidang Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli, menegaskan bahwa perubahan ini harus diikuti dengan aksi nyata. ​Menurutnya, kader muda PDI-P di Jateng harus “langsung terjun melakukan konsolidasi ke akar rumput.” Tanpa pergerakan cepat ini, potensi hilangnya dukungan massa bisa menjadi kenyataan pahit bagi PDI-P.​

    Regenerasi ini adalah sebuah keharusan di era sekarang, di mana anak-anak muda diharapkan tampil memimpin partai. Pemilu 2029 diprediksi akan didominasi oleh pemilih muda, sehingga kepengurusan yang relevan dengan segmen ini menjadi sangat krusial.

    Mengamankan “Kandang Banteng” Dari Perpindahan Suara

    Predikat Jawa Tengah sebagai “Kandang Banteng” PDI-P bukanlah jaminan abadi. Lili Romli mengingatkan, jika PDI-P tidak segera bergerak, massa di akar rumput berisiko berpindah haluan atau diambil oleh partai lain. Hal ini menunjukkan bahwa kesetiaan pemilih bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dinamis dan membutuhkan perhatian berkelanjutan.

    Konsolidasi ke akar rumput menjadi kunci utama untuk mencegah erosi dukungan. Ini bukan hanya tentang kampanye saat Pemilu, melainkan membangun kedekatan dan kepercayaan dengan masyarakat sehari-hari. Tanpa konsolidasi yang kuat, predikat “Kandang Banteng” bisa terancam hilang.

    Risiko perpindahan suara ini sangat nyata, terutama di tengah persaingan politik yang semakin ketat. Partai-partai lain tentu juga gencar mendekati konstituen di Jawa Tengah. Oleh karena itu, PDI-P harus proaktif dan memastikan bahwa aspirasi serta kebutuhan masyarakat terus terakomodasi.

    Baca Juga: Korupsi Dana Bencana Rp1,5 Miliar, Kadis Sosial Samosir Jadi Tersangka

    Peran Penting Kader Muda Dalam Menjangkau Pemilih

    Peran Penting Kader Muda Dalam Menjangkau Pemilih

    Kader muda PDI-P di Jateng diharapkan mampu memahami karakteristik pemilih masa kini yang didominasi oleh generasi muda. Mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang isu-isu yang relevan bagi kaum muda, serta gaya komunikasi yang efektif untuk menjangkau segmen ini. Inilah esensi dari regenerasi kepemimpinan.

    Kemampuan beradaptasi dengan perubahan demografi pemilih menjadi salah satu kekuatan utama kader muda. Mereka dapat membawa ide-ide inovatif dalam strategi kampanye dan program kerja partai yang lebih menarik bagi pemilih milenial dan Gen Z, yang cenderung lebih kritis dan membutuhkan pendekatan yang berbeda.

    Lili Romli sangat optimis dengan kemampuan kader muda untuk memimpin. Ia menyatakan bahwa “era sekarang adalah eranya anak-anak muda yang harus tampil dan memimpin partai,” karena merekalah yang akan menjadi mayoritas pemilih di Pemilu 2029. Ini adalah momentum bagi mereka untuk membuktikan kapasitasnya.

    Implikasi Strategis Pemilu 2029

    Regenerasi kepengurusan dan konsolidasi ke akar rumput PDI-P Jawa Tengah merupakan bagian dari persiapan strategis menghadapi Pemilu 2029. Pemilu ini akan menjadi ajang pembuktian apakah strategi PDI-P dengan mengandalkan kader muda mampu mempertahankan dominasinya di salah satu lumbung suara terbesarnya.

    Keberhasilan PDI-P di Jawa Tengah akan sangat menentukan hasil Pemilu secara nasional. Oleh karena itu, setiap langkah dan kebijakan yang diambil oleh kepengurusan baru di Jateng akan diawasi secara ketat, baik oleh internal partai maupun oleh lawan politik. Konsolidasi yang efektif akan menjadi fondasi kemenangan.

    Pada akhirnya, tantangan PDI-P Jawa Tengah bukan hanya sekadar memenangkan Pemilu, tetapi juga memastikan bahwa partai tetap relevan dan dicintai oleh rakyat. Dengan kepemimpinan muda dan kerja keras di lapangan, “Kandang Banteng” diharapkan akan tetap kokoh dan menjadi inspirasi bagi PDI-P di seluruh Indonesia.

    Jangan lewatkan update berita seputaran Uang Rakyat serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


    Sumber Informasi Gambar:

      • Gambar Utama dari kompas.id
      • Gambar Kedua dari nasional.kompas.com